Selasa, 28 Februari 2017

Dakwah Kita Belum Sampai ke Mereka


Oleh: Muhammad Fajri Abdullah

Seakan-akan diri ini yg paling sempurna, melihat pelik dan akhirnya cibir mereka.
.
Lagi-lagi diri ini merasa paling sempurna.
.
Andai ganti point of view kita, apa yang telah dilakukan. Apakah sudah benar langkah itu? Apakah sudah dipikirkan sebelumnya? Dan sudahkah semua itu muncul dari hasil musyawarah? Jika iya, maka yg membenci, hatinya telah dikuasai oleh musuh alami. Iblis.
.
Tetap saja, apa yang kita lakukan, sekalipun itu baik, sekalipun itu bermaslahat, sekalipun itu tujuannya untuk Allah, akan selalu ada sekelompok manusia yang menentang, bisa jadi mereka seiman. Dan sedihnya lagi mereka menjadi garda terdepan. Astaghfirullah
.
Lagi lagi diri ini merasa paling sempurna.
.
Menyentuh mereka dengan hati merupakan senjata paling kuat dalam perkara ini. Setiap pikiran kita, berusaha untuk memberikan perhatian kepada mereka. Setiap keputusan kita, membuahkan senyuman kepada mereka. Setiap tindakan kita, menjadikan inspirasi serta motivasi bagi mereka semua.
.
Cobalah berpikir positif, terlebih lagi yang melakukan tersebut didukung oleh orang-orang yang bisa menjaga nama perjuangan, nama Islam, bahkan nama Allah
.
Lagi-lagi diri ini merasa paling sempurna.
.
Perlu disampaikan bahwa dalam setiap perkara yang ada di dunia janganlah kita pisah-pisahkan dengan agama. Sekalipun itu perkara ekonomi, bercengkrama, konstitusi, hingga ranah politik. Kita membenci sekularisasi, jangan-jangan kitalah yang menanam itu kembali.
.
Jangan salah, orang-orang yang pandai beragama. Mereka bisa lebih pandai dalam perkara dunia. Karena bisa jadi yang disampaikan itu petunjuk dari Allah, dzat yang bisa menggerakkan hati, pikiran, jiwa, raga manusia, dan segalanya.
.
Maafkanlah diri ini yang lagi-lagi tidak sesuai dengan keinginan dan harapan.
Maafkanlah diri ini jika masih membuat dendam di hati.
.
"Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Bukannya tidak menyakitkan. Bahkan para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari akhirnya menjadi adaptasi, dan rasa lelah itu sendiri akhirnya lelah untuk mencekik iman. Begitupula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.“ (K.H. Rahmat Abdullah)


Jumat, 20 September 2013

Sejarah Pualam

PUALAM atau yang disebut Perhimpunan Siswa Penjelajah Alam SMAN 4 Bekasi lahir pada tanggal 11 Juni 1990 di Curug Cinulang, Cicalengka, Bandung, Jawa Barat pada pukul 22.10. Para pendiri (The Founding Father) dari PUALAM yaitu:
1. Gunadi Triyono
2. Dadan Ramadhan
3. Ari Purwanto

Proses pembentukan PUALAM disaksikan oleh 2 saksi guru, yaitu:
1. Bpk. Dedi Supriyadi
2. Bpk. Drs Cece Hidayat


Perhimpunan Siswa Siswi Penjelajah Alam SMAN 4 BEKASI

“Assalamu'alaykum wr. wb."
“Welcome To The Jungle!”
“Salam Rimba!”
 
Pada umumnya perhimpunan atau perkumpulan kegiatan alam bebas menggunakan nama “Pecinta Alam”, sedangkan PUALAM mengambil nama “Penjelajah Alam”, karena PUALAM berpendapat bahwa Pecinta Alam itu belum tentu Penjelajah Alam sedangkan Penjelajah Alam sudah pasti Pecinta Alam. Pendapat ini diperoleh dari pengertian bahwa untuk menjadi seorang Penjelajah Alam harus mencintai Alam, sedangkan seorang Pecinta Alam tidak harus menjelajah Alam.

Pualam adalah kata lain dari batu marmer yang mempunyai sifat dasar keras, kokoh, dan kuat. Dari sifat-sifat dasar itulah nama Pualam digunakan sebagai nama dari Perhimpunan Siswa Penjelajah Alam SMAN 4 Bekasi.

Kegiatan PUALAM ada cukup banyak, tetapi yang paling inti adalah :
  • Pendakian Gunung (Mountaineering) 
  • Pemanjatan Tebing (Climbing)
  • Dayung (Oaring)
Dalam misinya sebagai Penjelajah sekaligus Pecinta Alam, PUALAM menerapkan beberapa semboyan, antara lain :
  • Mendaki melihat keagungan, menapak kaki di Bumi menggapai prestasi (PUALAM SMAN 4 BEKASI) 
  • Tuhan bersama orang-orang berani (Jaya Giri)
  • Mountaineers are always freeman (Colorado people)
  • All for one, One for all (Team)
  • Jangan mengambil apapun kecuali gambar, Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, Jangan membawa apapun kecuali kenangan.
  • Mengharapkan untuk yang terbaik, mempersiapkan untuk yang terburuk.
Untuk bisa mengikuti kegiatan-kegiatan itu kita harus mendalami segala teknik-tekniknya. Dengan menjadi seorang penjelajah alam kita bisa lebih bijak terhadap alam, dengan tidak mengeksploitasi alam dan memanfaatkan sebesar-besarnya serta kita bisa lebih bertanggung jawab terhadap alam, karena peranan alam sangat penting bagi kita sebagai manusia.

“SALAM RIMBA!” - “SALAM LESTARI!”.

“Wassalamu'alaykum wr. wb."




 Kami mempersembahkan: